Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2021

Pengalaman Aktifkan kembali kartu ATM yang tertelan Mesin Dimasa Pandemi

     "WADUH ...kartu ATM ku ketelen mesin..Bakalan ribet nih urusannya.." Kalimat ini yang langsung muncul di benak saya kemarin sore saat kartu ATM tertelan mesin ATM disebuah minimarket dekat rumah. Masalahnya ini masa pandemi. Buat ngurus kartu ATM kan harus ke bank tempat kita bikin rekening. Bank kan pasti rame...trus prosesnya pasti lama...Ada rasa khawatir dan takut..ngeri-ngeri sedeppp pergi ke Bank dimasa pandemi.. Heemmm beneran...puyeng rasanya. Boro-boro ke bank...ingin mengambil uang cash di mesin ATM saja harus buru-buru karena sedang menjaga tidak terlalu lama berada di luar rumah.  Tahu sendiri kaann, saat seperti ini kita memang harus menjaga seminimal mungkin interaksi dengan orang lain dan dunia luar rumah. Kartu ATM sangat dibutuhkan untuk kebutuhan mengambil uang cash. Walaupun segala bentuk belanja dilakukan dengan online, namun uang cash tetep sangat perlu kaann..  Untungnya, pak suami tenang...beliau memang always cooollll he he he... "Nggak pa pa

Sejak 1800 Kota Surabaya Sudah Banjir

He Rek..Suroboyo banjir kaet taon Sewu Wolungatos...   Nek gak banjir.. yo duduk Suroboyo rek!!!   Iyo ta? Buktino dhisek po o rek.....ojo ngomong angger njeplak ae awak peno iki..!!!      H a ha ha....Begitulah asyiknya arek Suroboyo kalo sedang ngobrol. Ceplas ceplos dengan bahasa yang sangat khas. Saya sih enjoy saja  mendengar percakapan dengan gaya bicara seperti ini..Sudah biasa.... Apalagi suami saya kan juga arek Suroboyo Asli...dan kami pun tinggal menetap di Suroboyo he he he...  Tapi ternyata memang benar lho...Surabaya kota Pahlawan tercinta ini sudah banjir sejak tahun 1800. Saya sendiri lumayan kaget, masak iya....??? Karena yang saya tahu,  banjir disebabkan salah satunya karena  sampah yang menyumbat saluran air. Selain itu juga karena alam yang sudah dirusak manusia seperti pencurian kayu dan penggundulan bukit bukit tempat resapan air. sehingga akhirnya banjir dan longsor dimana mana. Tapi ini Surabaya di tahun 1800 lhooo. masak iya...sudah banyak sampah menumpuk disa

Cerita Tentang Dina

with love Hai... Saya Dina Amalia. Seorang Bunda, Istri  dan Blogger. Saat ini aktif menulis apapun yang saya lihat, rasa, dan pikirkan. Karena menulis terbukti  mampu menghadirkan senyum terindah binar mataku dan bukan hanya rekah  bibirku. Lahir di Surabaya, kota yang hingga saat ini udaranya memenuhi rongga perjalanan napasku. Takdir indah  membuatku kembali di kota Pahlawan. Perjalana kehidupan sebagai seorang anak pegawai negeri sipil Pengadilan Agama membawa kehidupan berpindah lintas kota dan lintas propinsi. Pernah melalui serunya kehidupan masa kecil di Tuban Jawa Timur. Kami tinggal di Jln. Kutorejo Gg. 3. Tuban sangat lekat dengan nama Sunan Bonang, wali songo penyebar agama Islam di pulau Jawa. MasyaaAllahnya...lokasi makam Sunan Bonang, sangat dekat dengan rumah kami yaitu Kutorejo Gg 4.  Jadi nggak heran.. jika akhirnya menjadi salah satu tempat bermain kami. Salah satu moment yang tak terlupa adalah saat saya antri pembagian bubur gratis disetiap sore jelang berbuka puas