Langsung ke konten utama

Cerita Tentang Dina


with love

Hai...

Saya Dina Amalia. Seorang Bunda, Istri  dan Blogger.

Saat ini aktif menulis apapun yang saya lihat, rasa, dan pikirkan. Karena menulis terbukti  mampu menghadirkan senyum terindah binar mataku dan bukan hanya rekah  bibirku.

Lahir di Surabaya, kota yang hingga saat ini udaranya memenuhi rongga perjalanan napasku. Takdir indah  membuatku kembali di kota Pahlawan. Perjalana kehidupan sebagai seorang anak pegawai negeri sipil Pengadilan Agama membawa kehidupan berpindah lintas kota dan lintas propinsi.

Pernah melalui serunya kehidupan masa kecil di Tuban Jawa Timur. Kami tinggal di Jln. Kutorejo Gg. 3. Tuban sangat lekat dengan nama Sunan Bonang, wali songo penyebar agama Islam di pulau Jawa. MasyaaAllahnya...lokasi makam Sunan Bonang, sangat dekat dengan rumah kami yaitu Kutorejo Gg 4.  Jadi nggak heran.. jika akhirnya menjadi salah satu tempat bermain kami. Salah satu moment yang tak terlupa adalah saat saya antri pembagian bubur gratis disetiap sore jelang berbuka puasa bulan Ramadhan.  

Ha ha ha....sampai saat inipun saya belum berhasil menemukan alasan mengapa ikut antrian panjang bubur itu hampir tiap hari. Padahal setelah dapat, buburnya tidak dimakan karena Ibu yang jago masak sudah menyiapkan makanan luwar biasa lezaaattt dan baanyaaakkk untuk 9 anggota keluarga. Karena kami 7 bersaudara ...he he he...

Sekolah di TK Bhayangkari Tuban dan SDN Kebonsari II Tuban hanya sampai dikelas 4 saja. Karena Bapak bertugas menjadi kepala Pengadilan Agama Tabanan - Bali. Ups....jauh yaaa. Adaptasi yang harus saya lakukan juga lumayan banyak. Mulai perbedaan adat istiadat, agama, selera cita rasa makanan, bahasa, dan masih banyak yang lain. Sangat  mengesankan ketika harus dikejar Bapak bapak Pecalang saat main sepatu roda di jalan Bypass Tabanan - Denpasar padahal sedang Hari Raya Nyepi.  Memang usiiiilll...bangetttt, padahal sudah diingatkan Bapak dan Ibu agar tidak ribut, tidak mainan di luar rumah dan apalagi main sepatu roda di jalan besar. tapi memang usia sangat belia...hanya tingkah bocil usia 10 tahun...

Melanjutkan sekolah di SDN No.1 Kediri Tabanan, SMPN 1 Tabanan dan SMAN 1 Tabanan. Disini petama kali merasakan pilu sedih yang takkan terhapus apapun karena Ibu meninggal dunia. Ibu hanya mampu bertahan 3 tahun melawan kanker payudara. Di tahun 1994 itu penyakit nomor satu yang merenggut nyawa perempuan di dunia adalah kanker payudara.    

Berbekal tekad kuat mewujudkan keinginan Ibu agar saya menjadi Penyiar dan Reporter TV, saya pindah ke Surabaya dan kuliah di STIKOSA-AWS Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi - Almamater Wartawan Surabaya tahun 1994. Saat semester pertama dan baru menjalani perkuliahan 2 bulan, saya mendapat mata kuliah Radio Script Writing . Dosen saya adalah Bapak Erol Jonathan. Manusia utama di Radio Suara Surabaya 100 FM. Saya serius mengerjakan tugas membuat naskah radio bersumber dari berita koran waktu itu.  Tanpa sengaja bertemu kakak kelas yang menjadi news manager Radio Today FM Surabaya bergenre mahasiswa Mas Anang. Beliau melihat naskah radio saya dan langsung menawarkan posisi srcipt writer di Radio Istara FM yang segmetasinya Remaja. Nggak pakai mikir, saya langsung menerima tawaran itu. Radio Istara FM satu jaringan perusahaan dengan Radio Today FM.

Masih di tahun 1994 juga, TVRI Stasiun Surabaya sedang membuka lowongan menjadi penyiar continuity, penyiar yang bertugas menyampaikan tinjauan acara TVRI tiap hari, dan membawakan berbagai acara diluar program NEWS. Sangat tertantang ketika ditawari mendaftar lowongan tersebut. Dan yang mendaftar juga saaanngggaaattt baannyyaakkkk. Nggak heran sih...karena profesi menjadi  penyiar TV memang sangat langka dan semua orang menginginkannya. Apalagi saat itu TVRI masih sangat berjaya. Maka takdir Allah yang membuat saya menjadi penyiar Continuity dan kemudian beralih menjadi  penyiar Berita. 

Tidak ingin waktu terbuang, selain menjadi penyiar TVRI, saya juga menjadi penyiar Radio. Radio yang saya incar adalah SCFM Surabaya. Ini Radio terkeren saat itu dengan segmentasi profesional muda. Radio inilah yang akhirnya mampu mematangkan kemampuan saya sebagai seorang profesional Broadcaster.

Tahun 1999 pindah ke Jakarta dan menjadi Reporter di harian Media Indonesia. Kemampuan Jurnalistik luar biasa terasah di sini. Pernah ditempatkan sebagai reporter bidang Ekonomi, Olahraga, dan edisi Minggu.   

Tahun 2002, Televisi Pendidikan Indonesia  TPI yang berlokasi di dekat Taman Mini Indonesia Indah, menawarkan kesempatan menjadi Reporter. Tentu saya tidak mampu menolak tawaran ini, karena lokasi dekat dengan rumah kakak sulung saya. Selain itu, memang saya sudah sangat kangen dengan dunia Televisi. 

Sungguh menyenangkan menjadi Reporter TV. Jauh lebih berkesan jika dibanding hanya sebagai penyiar TV. Namun yang paling membuat bahagia, saya sudah menwujudkan keinginan Ibu Almarhum. "Din...koen iki cocok dadi penyiar tivi ambek reporter tivi", kata Ibu waktu itu sambil menunjuk foto foto saya. Saya meyakini apa yang dipikirkan dan disampaikan Ibu adalah yang terbaik buat saya. 

Saatnya takdir kembali ke kota pahlawan tiba, kekasih melamar dan meminta saya tinggal di Surabaya. Alhamdulillah...di Surabaya bisa melanjutkan profesi menjadi Reporter TPI sampai 2007.  Kemudian merajut kembali profesi sebagai penyiar radio di Radio Suara Muslim Surabaya tahun 2011 - Maret 2020.

Sekarang, begitu indahnya kehidupan saya sebagai bunda dari 3 putri sholehah, seorang istri dari suami yang sholeh dan menjadi Blogger.  Buku pertama berupa antologi berjudul Perempuan Menyapa. Ini Cerita Tentang Kita. 

Jabat erat dari saya Dina Amalia


Jalin komunikasi melalui :  @d_amaliadina dan amaliadina226@gmail.com

 

Komentar

  1. Halo mba DIna, senang akhirnya ketemu di blog. Semoga sukses ngeblognya dan konsisten ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heeiiii tx bangettt sudah mampir....aamiin...semoga sehebat dirimu Dik...

      Hapus
  2. Wah... Keren keren wajibvtransfer ilmu ini... Ijin belajar senior. Hanya tiga kata : keren.. keren.. keren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. MasyaaAllah....mas Lukman... terimakasiihh atas suportnya. Saya juga akan sangat banyak belajar nih ke mas Lukman..seorang seniman literasi..mantabbbb

      Hapus
  3. Betapa senangnya masa kecil kita di Bali ya mbak,,masa kecil sekaligus masa remaja
    Bahagia dan sedih kita rasakan disana,,
    Trimakasih Ya Allah,,trimakasih bapak ibu,,trimakasih kakak dan adikku,,kita pernah bahagia bersama

    BalasHapus
    Balasan
    1. MasyaaAllah bangetttt pengalaman masa kecil di Tuban dan Bali ya Lia...Hiks jadi rindu masa masa itu..

      Hapus
  4. Dinaaa....jadi ingat pohon belimbing yg di Kutorejo. Setiap saat ingin makan belimbing tinggal panjat. Makan belimbing sambil bergelayutan di dahan2 pohon....hahaha....
    Setiap teman yg datang ingin makan belimbing jg. Belimbing yg tdk pernah habis buahnya. Selalu menjadi suguhan favorit teman2 kita. Hahaha...aku jg pernah jatuh dr pohon itu. Gak sengaja injak dahan yg rapuh. Tp aku gak pernah kapok untuk panjat lagi.
    Senengnya masa kecil kita dulu ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ha...iya mbak....apalagi pas denger suara sepeda motor Bapak datang...kita langsung prusutan turun Sampek babras Kabeh yooo ha ha ha..

      Hapus
    2. Gak kita saja yg jd prusutan....teman2 kita jugaaa....jd panik kalau sdh dengar suara motor Bapak....hahaha...

      Hapus
  5. Hallo mbak, salam kenal. Saya dari blog www.beyourselfwoman.com. Senang sekali ada blogger dg latar belajar jurnalistik berpengalaman. Sudut pandangnya pasti lebih detil. Selamat datang di dunia blogging.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haiii salam kenal juga...
      Seneng banget bisa kenalan dengan Mbak..
      Saya masih harus terus belajar..terimakasih atas suportnya ya mbak..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Aktifkan kembali kartu ATM yang tertelan Mesin Dimasa Pandemi

     "WADUH ...kartu ATM ku ketelen mesin..Bakalan ribet nih urusannya.." Kalimat ini yang langsung muncul di benak saya kemarin sore saat kartu ATM tertelan mesin ATM disebuah minimarket dekat rumah. Masalahnya ini masa pandemi. Buat ngurus kartu ATM kan harus ke bank tempat kita bikin rekening. Bank kan pasti rame...trus prosesnya pasti lama...Ada rasa khawatir dan takut..ngeri-ngeri sedeppp pergi ke Bank dimasa pandemi.. Heemmm beneran...puyeng rasanya. Boro-boro ke bank...ingin mengambil uang cash di mesin ATM saja harus buru-buru karena sedang menjaga tidak terlalu lama berada di luar rumah.  Tahu sendiri kaann, saat seperti ini kita memang harus menjaga seminimal mungkin interaksi dengan orang lain dan dunia luar rumah. Kartu ATM sangat dibutuhkan untuk kebutuhan mengambil uang cash. Walaupun segala bentuk belanja dilakukan dengan online, namun uang cash tetep sangat perlu kaann..  Untungnya, pak suami tenang...beliau memang always cooollll he he he... "Nggak pa pa

Puasa 72 jam Tapi Seger Buger..Kok Bisa?

INI bukan sulap dan juga bukan sihir, saya melakukan Water Fasting atau puasa air selama 72 jam atau 3 hari. Tanpa makan apapun hanya minum air putih.      Kalau dinalar, tentu muncul pertanyaan..."Ngapain Din....puasa 3 hari nggak makan ...kayak ular saja.." Wk wk wk.....iya ya....aneh juga kalo dipikir. Tapi beneran, water wasting bukan seaneh dan semenakutkan itu. Saya ber WF karena saya ingin sehat. lhooo apa hubungannya WF dengan sehat? Begini ceritanya... Puasa buat kejar AUTOPHAGY Puasa atau Fasting tentu bukan hal baru bagi seorang Muslim. Bulan Ramadhan, dimana seluruh muslim wajib berpuasa sebulan penuh sangat dinantikan kehadirannya setiap tahun. Alhamdulillah..saya sekeluarga juga taat menjalankan syariat ibadah puasa Ramadhan ini, InsyaaAllah.  Ada hal menarik terkait puasa yang ingin saya share pengalamannya kepada temen-temen semua. Bukan puasa agama Islam, namun puasa ini bernama Water Fasting. Puasa yang sedang menjadi tranding topic pegiat kesehatan. Ada ba