Langsung ke konten utama

Sejak 1800 Kota Surabaya Sudah Banjir
















He Rek..Suroboyo banjir kaet taon Sewu Wolungatos...  

Nek gak banjir.. yo duduk Suroboyo rek!!! Iyo ta? Buktino dhisek po o rek.....ojo ngomong angger njeplak ae awak peno iki..!!!


    Ha ha ha....Begitulah asyiknya arek Suroboyo kalo sedang ngobrol. Ceplas ceplos dengan bahasa yang sangat khas. Saya sih enjoy saja  mendengar percakapan dengan gaya bicara seperti ini..Sudah biasa.... Apalagi suami saya kan juga arek Suroboyo Asli...dan kami pun tinggal menetap di Suroboyo he he he... 

Tapi ternyata memang benar lho...Surabaya kota Pahlawan tercinta ini sudah banjir sejak tahun 1800. Saya sendiri lumayan kaget, masak iya....??? Karena yang saya tahu,  banjir disebabkan salah satunya karena  sampah yang menyumbat saluran air. Selain itu juga karena alam yang sudah dirusak manusia seperti pencurian kayu dan penggundulan bukit bukit tempat resapan air. sehingga akhirnya banjir dan longsor dimana mana.

Tapi ini Surabaya di tahun 1800 lhooo. masak iya...sudah banyak sampah menumpuk disana sini. apakah sudah parah perusakan lingkungan hidup waktu itu?...Dan apakah bukit bukit sudah gundul....?

Di salah satu buku kesayangan saya, Soerabaia Tempoe Doeloe karya Dukut Imam Widodo, ada pembahasannya. Buku semacam ensiklopedia sejarah kota Surabaya jaman dulu ini terdiri dari 2 buku. Nah pembahasan tentang Banjir Surabaya sejak tahun 1800 ada di buku 2 halaman 379.

Dalam buku ini, penulis menceritakan dengan detail apa yang kemungkinan menjadi penyebab banjir dan langkah langkah pemerintah belanda saat itu untuk mengantisipasinya . Beliau mengutip informasi mengenai hal itu dari buku Oud Soerabaia yang ditulis Von Faber. 





Banjir karena luapan air laut di sekitar Kali Mas

Dalam tulisan Von Faber dijelaskan bahwa sejak  tahun 1800 kota Soerabaia setiap tahun sudah mengalami kesulitan menghadapi banjir karena luapan air laut yang masuk kepemukiman penduduk di sekitar Kali Mas. Ceritanya, saat itu mulai dari Benteng Citadel atau Benteng Prins Hendrik ( sekarang adalah Jalan Benteng ) hingga ke Selat Madura masih berupa rawa - rawa. Hanya ada jalan setapak di sebelah Barat kali Mas dan satu jalan lagi di sebelah Timur Kali Pegirian yang juga menuju ke pantai. 

Wilayah antara Kali Mas dan Kali Pegirian pada waktu itu masih berupa hutan nipah. Dan disitu mengalir kali-kali kecil cabang Kali Mas.

Sebuah jalan yang lumayan bagus baru dibangun pada 1809. Jalan itu berada disepanjang tepi Timur Kali dan sekarang jalan itu bernama Jalan Patiunus. Dengan adanya jalan ini,  maka didaerah tersebut mulai bermunculan rumah-rumah penduduk yang dibangun diatas tiang-tiang dari kayu. 

Nah ..pada saat air laut pasang, air mengalir hingga ke bawah rumah rumah yang dibangun diatas tiang tiang dari kayu itu. Akhirnya pemukiman ini menjadi kampung-kampung dengan tanah yang cukup kering dan diberi nama Oedjoeng (Ujung).

Hampir bersamaan waktunya, dikanan kiri muara Kali Mas juga dibangun Kaaimuren atau tembok plengsengan dari batu batu karang yang kabarnya diatangkan khusus dari Madura. Selain itu, sekitar 200 meter dari Kaaimuren juga didirikan Benteng kecil yang diberi nama Forje Kali Mas atau Benteng kecil Kali Mas.  Benteng ini berfungsi sebagai pengawas kapal kapal atau perahu perahu yang akan masuk Kali Mas  dan menuju Groote Boom, kantor Douane atau Bea Cukai. di Willemskade yang sekarang sebagian wilayahnya menjadi Taman Jayengrono. 


Kali Mas dengan gudang gudang bercat kapur putih yang kotor, toko toko, warung warung yang biasa dikunjungi para pelaut yang kesemuanya berada pada kedua sisi Kali Mas.


Banjir karena managemen pemkot yang  urug sana - urug sini (tutup sana - tutup sini)

1. Tahun 1824 : Pemkot membuat 2 buah kali kecil yang digunakan untuk menghubungkan Kali Mas dengan Kali Pegirian. lokasinya di bagian  Selatan emplasement Stasiun Kota dan di bagian Utara melalui Kali Malang. Dua kali buatan itu belakang diberi nama sebagai Kali Mati. Dan memang akhirnya benar benar menjadi kali yang mati karena tahun 1883 kali tersebut di urug.

2. Tahun 1835 : Kawasan Gemblongan adalah sebuah cabang kali yang terbuka dari Kali Mas yang melalui Kali Moro atau Kali Krembangan dan melalui  kali kali kecil lainnya yangkesemuanya bermuara di Moro Krembangan dan sampai di Selat Madura. Di tahun 1835, tempat bercabangnya Kali Mas menjadi Kali Gemblongan ditutup dengan sebuah pintu air. Dan entah apa sebabnya Kali Gemblongan juga ikut di urug. 

3. 1870 : Semua parit - parit yang mengelilingi benteng -benteng dalam Kota Soerabaia juga di urug tanpa sebab yang jelas.

4. 1889 - 1890 : Pemerintah Belanda di Soerabaia memerintahkan agar seluruh rawa rawa dan genangan air di wilayah plampitan dan Jagalan diurug. Saat itu Kota Soerabaia dilanda pageblug atau wabah penyakit kolera.     

5. 1890 - 1899 : Pengurukan parit parit dan tempat tempat genangan air terus dilakukan dan dilanjutkan di wilayah Benteng dan sebelah Barat Kali Pegirian.  


Simpang selalu kebanjiran jika hujan turun deras



Langkah Pemerintah Belanda mengatasi Banjir Kota Soerabaia

Banjir di Kota Soerabaia akibat pengurukan akses jalan air semakin parah. Pemerintah kota yaitu pemerintahan Belanda saat itu akhirnya mengambil langkah untuk mengatasinya :

1. 1956 :  Membangun kanal kanal yang menuju Selat Madura dan membuat  bendungan di wilayah Jagir.  

2. 1889 - 1899 : Dibangun pintu pintu air diwilayah Gubeng dan Gunungsari. Langkah ini dilakukan agar Kali Mas dan Kali Soerabaia  tetap bisa dilalui  kapal dan perahu


    Seperti itulah gambaran banjir kota Soerabaia tempoe doeloe dan langkah yang diambil pemerintah belanda atau pemkot Soerabaia saat itu. Sayang sekali tidak dijelaskan detail..seperti apa kondisi warga kota Soerabaia dan juga kondisi tinngginya air banjir di kota Soerabaia tempoe doeloe. Namun sangat terobati dengan foto foto yang ditampilkan. 

Heemmm ... semoga Soerabaia tercinta bisa lepas dari cengkraman banjir selamanya. 

"Mosok Rek...kaet taon sewu wolungatus sek tetep banjiirrrr ae....!!! "


Kali Mas dilihat dari Jembatan Merah. Yang sebelah kiri adalah Groote Boom. sekarang jalan Garuda.

                                                                           



Komentar

  1. Baru tahu aku D8n, kalau Surabaya sudah banjir dari jaman doeloe....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya...herannya kok ya sampai sekarang banjirnya...masak nggak bisa diatasi..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Aktifkan kembali kartu ATM yang tertelan Mesin Dimasa Pandemi

     "WADUH ...kartu ATM ku ketelen mesin..Bakalan ribet nih urusannya.." Kalimat ini yang langsung muncul di benak saya kemarin sore saat kartu ATM tertelan mesin ATM disebuah minimarket dekat rumah. Masalahnya ini masa pandemi. Buat ngurus kartu ATM kan harus ke bank tempat kita bikin rekening. Bank kan pasti rame...trus prosesnya pasti lama...Ada rasa khawatir dan takut..ngeri-ngeri sedeppp pergi ke Bank dimasa pandemi.. Heemmm beneran...puyeng rasanya. Boro-boro ke bank...ingin mengambil uang cash di mesin ATM saja harus buru-buru karena sedang menjaga tidak terlalu lama berada di luar rumah.  Tahu sendiri kaann, saat seperti ini kita memang harus menjaga seminimal mungkin interaksi dengan orang lain dan dunia luar rumah. Kartu ATM sangat dibutuhkan untuk kebutuhan mengambil uang cash. Walaupun segala bentuk belanja dilakukan dengan online, namun uang cash tetep sangat perlu kaann..  Untungnya, pak suami tenang...beliau memang always cooollll he he he... "Nggak pa pa

Cerita Tentang Dina

with love Hai... Saya Dina Amalia. Seorang Bunda, Istri  dan Blogger. Saat ini aktif menulis apapun yang saya lihat, rasa, dan pikirkan. Karena menulis terbukti  mampu menghadirkan senyum terindah binar mataku dan bukan hanya rekah  bibirku. Lahir di Surabaya, kota yang hingga saat ini udaranya memenuhi rongga perjalanan napasku. Takdir indah  membuatku kembali di kota Pahlawan. Perjalana kehidupan sebagai seorang anak pegawai negeri sipil Pengadilan Agama membawa kehidupan berpindah lintas kota dan lintas propinsi. Pernah melalui serunya kehidupan masa kecil di Tuban Jawa Timur. Kami tinggal di Jln. Kutorejo Gg. 3. Tuban sangat lekat dengan nama Sunan Bonang, wali songo penyebar agama Islam di pulau Jawa. MasyaaAllahnya...lokasi makam Sunan Bonang, sangat dekat dengan rumah kami yaitu Kutorejo Gg 4.  Jadi nggak heran.. jika akhirnya menjadi salah satu tempat bermain kami. Salah satu moment yang tak terlupa adalah saat saya antri pembagian bubur gratis disetiap sore jelang berbuka puas